Sunday, September 16, 2012

READER FOR LEADERS!

Selalu ada alasan untuk berharap

Ia telah dikeluarkan dari perguruan tinggi dan upaya-upaya bisnis nya telah gagal. Kini saat ia berdiri di tepi danau Michigan di tengah sapuan angin pada suatu malam musim dingin, pria berusia 32 tahun itu melihat langit di atas untuk terakhir kalinya seraya bersiap untuk melemparkan diri ke dalam air yang sangat membekukan.

Itu adalah saat yang mencekam. Ia merasakan semburan ketakjuban saat ia melihat langit berbintang dan pikiran ini membakar benaknya: “kamu tidak berhak menhabisi dirimu sendiri. Kamu bukanlah milikmu! R. Buckminster Fuller berjalan meninggalkan danau itu dan memulai kembali dari awal.

Buckminster Fuller Born July 12, 1895
Milton, Massachusetts, United States Died July 1, 1983 (aged 87)
Los Angeles, United States
Occupation designer, author, inventor Spouse Anne Hewlett (m. 1917)
Children 2: Allegra Fuller Snyder and Alexandra who died in childhood




Sejak itu, ia memulai suatu perjalanan yang membawanya ke karier-karier sebagai seorang penemu, insinyur, matematikawan, arsitek, penyiar, dan kosmolog. Ia akhirnya memenangkan lusinan gelar kehormatan dan sebuah nominasi hadia Nobel. Fuller menulis dua lusin buku, berkeliling dunia 57 kali, dan memberitahukan impian-impiannya untuk masa depan kepada jutaan orang.

Penemu kubah geodesic ini jarang mengulangi pemunculannya dalam kuliah yang kadang-kadang berlangsung tiga sampai empat jam mengenai topic-topik dari pendidikan sampai asal usul kehidupan.
Hari ketika Buckminster Fuller berjumpa dengan harapan adalah hari ketika ia mulai menemukan makna hidupnya.

Selalu ada alasan untuk berharap. Harapan memberikan kita kekuatan untuk menunggalkan kegagalan dan bergerak menuju keberhasilan***


No comments:

Post a Comment

Thank for visited my blog....